SEKILAS INFO
  • 3 tahun yang lalu / Selamat datang di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap
  • 4 tahun yang lalu / Versi baru WP Masjid segera rilis dengan perubahan tampilan yang cukup signifikan
  • 6 tahun yang lalu / Web resmi WP Masjid segera dilengkapi dengan tutorial pengelolaan, untuk memudahkan pengguna mempelajari
WAKTU :

Biografi Muasis

Kelahairan

Beliau KH. Badawi Hanafi lahir di kampung Brengkelan, kecamatan Purworejo,  Kabupaten Purworejo,  Jawa Tengah sekitar  tahun 1885 M. Nasab beliau adalah KH. Badawi Hanafi bin KH. Fadlil bin H. Asyari (Sengari) bin Soyudo bin Gagak Handoko bin Mbah Bedug (Keturunan Mataram/Yogya). Ayah beliau, KH. Fadlil adalah seorang pedagang pakaian, dilahirkan di kota Purworejo, Jawa Tengah + Tahun 1847. Beliau berbadan tinggi besar, berkumis, berjenggot panjang, dan bersimbar (dada berambut). Mbah KH. Fadlil dikenal sebagai sosok yang rapi, sangat khusyu’ dalam beribadah,  suka berdzikir. Walaupun waktu berjualan dipasar, beliau tidak pernah lepas dari tasbihnya.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang ramah kepada siapapun, tawadu` dan juga suka menolong kepada fakir miskin, dan suka memberikan pinjaman kepada pedagang-pedagang kecil dengan tidak minta keuntungan sedikitpun dari pinjaman yang diberikan. Tidak suka menagih pinjaman walaupun beliau memerlukannya.

Pekerjaan sehari-hari beliau adalah berdagang kain. Beliau suka berdakwah Islamiyyah, sehingga sambil berjualan, beliau melaksanakan dakwah. Mbah KH. Fadlil berasal dari Purworejo, kemudian hijrah ke Kesugihan pada tahun 1910 dan bertempat tinggal di sebuah dusun di desa kesugihan yang benama Salakan, tepatnya di sebelah utara lapangan sepak bola Kesugihan sekarang. Pada tahun 1914 beliau pindah kedusun Platar, sebelah selatan stasiun Kereta Api jurusan Cilacap (atau sebelah utara komplek Raudhotul Qur`an (RQ) putra PPAI sekarang).

Pada tahun 1923, hari Selasa Manis, tanggal 28 Ramadlan terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat, banyak pohon besar yang tumbang, rumah banyak yang roboh, termasuk stasiun kereta api Maos. Atas pertolongan Allah SWT, langgar duwur yang didirikan oleh KH. Fadlil tetap tegak termasuk gentingnya tidak  ada yang patah atau jatuh, pada waktu itu langgar duwur sedang ditempati untuk pengajian oleh Kyai Muda Badawi, putra laki-laki kedua dari mbah KH. Fadlil.  

Adipati Cilacap pada waktu itu R. Cakra Wardaya menyempatkan untuk meninjau tempat-tempat yang terkena musibah gempa bumi tersebut, terharu melihat langgar duwur itu tidak roboh, sedangkan bangunan yang dianggap lebih kuat porak-poranda akibat terjadinya gempa tersebut. Ditengah-tengah haru dan keheranan tersebut, Bapak Adipati pada waktu itu mengatakan “Besok ditempat ini akan berdiri Masjid Besar”. Dari sinilah mulai terkenal langgar duwur. Alhamdulillah Allah SWT mengabulkannya, Mbah KH. Badafi Hanafi beserta kerabat, santri dan masyarakat pada hari senin wage tahun 1936 dapat mendirikan Masjid di pondok.

Pada tahun 1927 bulan rojab hari Senin wage jam 14.00 Mbah Nyai H. Fadlil (Shofiyah binti KH. Abdul Syukur) wafat, dan pada tahun 1937 pada bulan rajab juga, tepatnya  hari senin wage jam 06.00 pagi beliau mbah KH. Fadlil dipanggil menghadap Allah SWT.

Nasab

nasab baliau adalah KH. Achmad Badawi Hanafi bin H. Asyari (Sengari) bin Gagak Handoko bin Mbah Bedug (keturunan Mataram/Yogya).